key of my life

The Key of World, is to Share What the Best You have to Other People Every Time You Have
by: Fajria noor sapta R

Senin, 01 November 2010

askep abses paru

ABSES PARU
PENDAHULUAN
Abses paru adalah suatu lesi nekrotik dalam parenkim paru yang berisi nanah (pus). Abses paru sering terjadi pada laki-laki disbanding wanita dan umumnya berkisar pada umur 40-50 tahun. Kemajuan ilmu kedokteran menyebabkan kejadian abses paru menurun. Hal ini disebabkan karena adanya perbaikan resiko terjadinya abses paru seperti teknik operasi dan anesthesia yang lebih baik, dan menggunakan antibiotic lebih dini. Predisposisi abses paru lainnya seperti aspirasi paru oleh berbagai sebab, penyakit esovagus, infeksi gigi dan ginggiva yang berkelanjut, infeksi saluran napas atas dan bawah yang belum teratasi.
Abses paru akibat aspirasi sering terjadi pada parenkim paru kanan karena bronkus utama kanan lebih lurus dibandingkan bronkus utama kiri. Lokasi abses paru karena aspirasi biasanya di daerah subsegmental lobus atas segmen apical lobus bawah.




1.1.Trakea
Trakea (batang tenggorok) adalah tabung berbentuk pita seperti huruf C yang di bentuk oleh tulang-tulang rawan yang di sempurnakan oleh selaput. Trakea terletak di antara vertebrata servikalis ke-6 sampai ke tepi bawah kartilago.Trakea mempunyai dinding fibroelastis yang panjang nya sekitar 13 cm, berdiameter 2,5 cm dan dilapisi oleh otot polos. Diameter trakea tidak sama pada seluruh bagian, pada daerah servikal agak sempit, bagian pertengahan agak sedikit melebar dan mengecil lagi dekat percabangan bronkus.
Bagian dalam trakea terdapat sel-sel bersilia untuk mengeluarkan benda asing yang masuk. Bagian dalam trakea terdapat septum yang disebut karina yang terletak agak ke kiri dari bidang median.

1.2 Bronkus
Bronkus (cabang tenggorok) merupakan lanjutan trakea yang terdapat ketinggian vertebrata torakalis ke-4 dan ke-5.
Bronkus memiliki struktur yang sama dengan trakea, yang dilapisi oleh sejenis sel yang sama dengan trakea yang berjalan ke bawah menuju tampuk paru-paru.
Bronkus terbagi menjadi dua cabang :
a.       Bronkus prinsipalis dekstra.
Panjangnya sekitar 2,5 cm masuk ke hilus pulmonalis paru-paru kanan dan mempercabangkan bronkus lobularis superior. Pada masuk ke hilus, bronkus prinsipalis dekstra bercabang tiga menjadi bronkus lobularis medius, bronkus lobularis inferior, bronkus lobularis superior.
b.      Bronkus prinsipalis sinistra.
Lebih sempit dan lebih panjang serta lebih horizontal disbanding bronkus kanan, panjangnya sekitar 5 cm berjalan ke bawah aorta dan di depan esophagus, masuk ke hilus pulmonalis kiri dan bercabang menjadi dua, yaitu bronkus lobularis inferior, bronkus lobularis superior.
Dari tiap-tiap bronkiolus masuk ke dalam lobus dan bercabang lebih banyakdengan diameter kira-kira 0,5 mm. bronkus yang terakhir membangkitkan pernapasan dan melepaskan udara ke permukaan pernapasan di paru-paru. Pernapasan bronkiolus membuka dengan cara memperluas ruangan pembuluh alveoli yang merupakan tempat terjadinya pertukaran udara antara oksigen dengan karbondioksida.



1.3 Paru-paru
Paru-paru adalah salah satu organ system pernapasan yang berada di dalam kantong yang di bentuk oleh pleura parietalis dan viseralis. Kedua paru sangat lunak, elastic dan berada dalam rongga torak, sifatnya ringan dan terapung di air. Masing-masing paru memiliki apeks yang tumpul yang menjorok ke atas mencapai bagian atas iga pertama.
Paru-paru kiri :
Pada paru-paru kiri terdapat satu fisura yaitu fisura obliges. Fisura ini membagi paru-paru kiri atas menjadi dua lobus, yaitu :
a. lobus superior, bagian yang terletak di atas dan di depan fisura.
b. lobus inferior, bagian paru-paru yang terletak di belakang dan di bawah fisura.
Paru-paru kanan :
Pada paru-paru kanan terdapat dua fisura, yaitu : fisura oblique (interlobularis primer) dan fisura transversal (interlobularis sekunder).
Kedua fisura ini membagi paru-paru kanan menjadi tiga lobus, lobius atas, lobus tengah dan lobus bawah.

1.4 Pleura
Pleura adalah suatu membaran serosa yang halus membentuk suatu kantong tempat paru-paru berada yang jumlahnya ada dua buah dan masing-masing tidak berhubungan.
Pleura mempunyai dua lapisan, parietalis dan viseralis.
a). lapisan permukaan disebut permukaan parietalis, lapisan ini langsung berhubungan dengan paru-paru serta memasuki fisura dan memisahkan lobus-lobus dari paru-paru.
b). lapisan dalam disebut pleura viseralis, lapisan ini berhubungan denganfasia endotorakika dan merupakan permukaan dalam dari dinding toraks.
Sinus pleura :
Tidak seluruh kantong yang dibentuk oleh lapisan pleura diisi secara sempurna oleh paru-paru, baik kearah bawah maupun ke arah depan. Kavum pleura dibentuk oleh lapisan pleura parietalis saja, rongga ini disebut sinus pleura. Pada waktu inspirasi, bagian paru-paru memasuki sinus dan pada waktu ekspirasi ditarik kembali dari rongga tersebut.



2 Fungsi respirasi
Proses fisiologi pernapasan dimana O2 dipindahkan dari udara ke dalam jaringan-jaringan dan CO2 dikeluarkan ke udara ekspirasi, dapat terbagi menjadi 3 stadium.
1. Ventilasi
2. Difusi
3. Transportasi

PATOFISOLOGI
            Dalam keadaan normal saluran nafas bawah dan parenkim paru berada dalam keadaaan bebas mikroorganisme (steril). Mikroorganisme dapat kedaerah tersebut setelah melewati mekanisme pertahanan saluran napas atas dan bawah. Mekanisme pertahanan tersebut antara lain peran mukosilia (mucociliary clearance) yang dapat berfungsi sebagai antimigkroba, peran imunitas selular dan humural, daya fagositosis sel-sel maagkrofag dan poli morfonuklear, aktifitas surfaktans sebagai anti mikroba. Bila mikroorganisme penyebab infeksi sampai parenkim paru, terjadilah rongga yang berisi nanah (abses paru).
            Abses ini dapat menjadi multiple terutama pada keadaan umum pasien yang jelek atau pasien yang mengalami penyakit menahun seperti malnutrisi, sirosis hati, gangguan ilmu imunologis yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun, atau pengguanaan obat sitostatik. Selain itu organisme dapat masuk ke parenkim secara hematogin melalui keadaan bakteriemia. Penyebab hematogen umumnya terjadi pada infeksi oleh streptokokus dan klebsiella pneumonia.
ETIOLOGI
            Abses paru dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme terutama oleh :
1.      Kelompok bakteri aerob gram positif
-          Streptococcus microaerophilic
-          Staphylococus aureus
2.      Kelompok bakteri gram negative
-          Klebsiella pneumonia
-          Pseudomonas aeroginosa
-          Escherichia coli
3.      Kelompok bakteri anaerob
-          Bacteriodes melaninogenus
-          Bacteriodes fragilis
-          Peptostreptoccocus
4.      Kelompok jamu.
FAKTOR PREDISPOSISI
1.      Ada sumber infeksi saluran pernafasan. Infeksi mulut, tumor laring yang terinfeksi, bronkitis, bronkiektasis dan kanker paru yang terinfeksi
2.      Daya tahan saluran pernafasan yang terganggu Pada paralisa laring, aspirasi cairan lambung karena tidak sadar, kanker esofagus, gangguan ekspektorasi, dan gangguan gerakan sillia
3.      Obstruksi mekanik saluran pernafasan karena aspirasi bekuan darah, pus, bagian gigi yang menyumbat, makanan dan tumor bronkus. Lokalisasi abses tergantung pada posisi tegak, bahan aspirasi akan mengalir menuju lobus medius atau segmen posterior lobus inferior paru kanan, tetapi dalam keadaan berbaring aspirat akan menuju ke segment apikal lobus superior atau segmen superior lobus interior paru kanan, hanya kadang-kadang aspirasi dapat mengalir ke paru kiri.Abses paru baru akan timbul bila mikroorganisme yang masuk ke paru bersama-sama dengan material yang terhirup. Material yang terhirup akan menyumbat saluran pernafasan dengan akibat timbul atelektasis yang disertai dengan infeksi. Bila yang masuk hanya kuman saja, maka akan timbul pneumonia.

GAMBARAN KLINIS
      Gambaran klinis pasien abses paru bervariasi tergantung dari luas dan lamanya terjadinya abses. Umumnya pasien mempunyai riwayat perjalanan penyakit sekitar 1-3 minggu dengan gejala seperti demam, menggigil, batuk produktif dengan spuntum kuning kehijauan sampai kecoklatan, kadang-kadang dapat terjadi batuk darah.
      Bila abses terletak dekat pleura, biasanya ada rasa nyeri dada. Kadang-kadang terdapat juga penurunan nafsu makan, penurunan berat badan dan badan terasa lemah.
      Sering kali ditemukan adanya faktor preposisi terjadinya abses seperti pasien epilebsi’ gangguan kesadaran atau setelah mengalami tindakan operasi.
      Pemeriksaan fisis yang ditemukan seperti suhu badan meningkat dapat sampai 40*C,pada paru ditemukan kelainan seperti nyeri tekan local, perkusi didengar bunyi redup dengan suara nafas bronchial. Bila abses luas dan letaknya dekat dinding dada kadang-kadang terdengar suara armofik. Suara nafas bronchial terjadi karena bronkus masih tetap dalam keadaan terbuka disertai adanya konsulidasi sekitar abses dan drainase abses yang baik.
      Bila abses paru dekat pleura dan pecah akan terjadi piotoraks (empiema torasis) sehingga pada pemeriksaan fisis ditemukan pergerakan dinding dada tertinggal pada tempat lesi, fremitus vocal menghilang, perkusi redup/pekak, bunyi nafas menghilang dan terdapat tanda-tanda pendorongan jantung kearah kontralakteral tempat lesi.
LABORATORIUM
      Hitung leukosit umumnya tinggi berkisar 10.000-20.000/mm3 dengan hitung jenis bergeser kekiri dan sel polimorfonuklear yang banyak. Bila abses berlangsung lama, sering ditemukan adanya anemia.pemeriksaan spuntum dapat membantu dalam menemukan mikroorganisme penyebab abses. Sputum dapat diambil melalui batuk atau bilasan bronkus (bronchial washing) melalui bronkoskopi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dari sputum adalah pewarnaan langsung dengan tehnik gram, biakan mikroorganisme aerob, anaerob dan jamu. Pemeriksaan serologi dapat dilakukan untuk jamur dan parasit.
PEMERIKSAN RADIOLOGI
      Foto dada PA dan lateral sangat membantu untuk melihat lokasi lesi dan bentuk abses paru. Pada fase awal abses ditemukan gambaran radiolusens dalam bayangan infiltrasi yang dapat dengan batas permukaan udara dan cairan di dalamnya, akibat drainase abses kurang sempurna. Biasanya besar rongga abses berkisar 4-5 cm dengan lokasi pada segmen posterior lobus kanan atas, kadang-kadang pada segmen apical kanan bawah atau segmen apical posterior lobus kiri. Dapat ditemukan juga gambaran abses multiple.
KOMPLIKASI DAN PROGNOSA
1. Beberapa komplikasi yang timbul adalah : (4, 5)
a. Empyema
b. Abses otak
c. Atelektasis
d. Sepsis
2. Prognosa
Abses paru masih marupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Angka kematian Abses paru berkisar antara 15-20% merupakan penurunan bila dibandingkan dengan era pre antibiotika yang berkisar antara 30-40% (7).
Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan dengan penderita dengan satu fakktor predisposisi. Perlman et al menemukan bahwa 2% angka kematian pada penderita dengan satu faktor predisposisi dibandingkan 75% pada penderita dengan multi predisposisi. Muri et al melaporkan 2,4% angka kematian Abses paru karena CAP dibanding 66% Abses paru karena HAP. Beberapa faktor yang memperbesar angka mortalitas pada Abses paru sebagai berikut : (7)
a. Anemia dan Hipo Albuminemia
b. Abses yang besar (f > 5-6 cm)
c. Lesi obstruksi
d. Bakteri aerob
e. Immune Compromised
f. Usia tua
g. Gangguan intelegensia
h. Perawatan yang terlambat

PENATALAKSANAAN
Pasien abses paru memerlukan istirahat yang cukup. Bila abses paru pada foto dada menunjukkan diameter 4 cm atau lebih, sebaiknya dirawat inap untuk menjaga kemungkinan komplikasi. Diet biasanya bubur biasanya dengan tinggi kalori dan protein. Bila abses telah mengalami resulusi dapat diberikan nasi biasa.
Penggunaan antibiotic sedini mungkin berdasarkan evaluasi klinis. Berikan penisilin 1,2 juta unit/hari, selama 10-14 hari tergantung dari perbaikan klinis dan radiolosis. Bila alergi terhadap penisilin dapat digunakan klidamisin 3 kali 150 mg atau kloramfenikol 3 kali 500 mg selama 10 hari.
Bila abses karena kelompok bakteri anaerob dapat ditambahkan golongan metronidasol 3 kali 500 mg selama 10 hari.
PROGNOSIS
Prognosis sangat ditentukan oleh respon pengobatan, antibiotic dan penggunaan antibiotic sedini mungkin. Komplikasi dapat terjadi seperti piotoraks (empiema) atau fistula bronkopleura. Prognosis umumnya baik, tergantung juga dengan keadaan umum pasien dan etiologi penyebab abses.
PENGKAJIAN :
a.       Kaji riwayat faktor resiko seperti: Adanya riwayat aspirasi, infeksi saluran nafas (radang mulut, gigi dan gusi, tenggorokan), higiene oral yang kurang, peminum minuman keras atau masuknya suatu benda kedalam saluran pernafasan.
b.      Kaji adanya riwayat penyakit infeksi saluran nafas kronis seperti TBC, Bronkitis, Abses hepar
c.       Kaji adanya batuk dengan sputum yang berlebih serta bau yang khas serta batuk darah, nyeri yang dirasakan didalam dada, kelelahan, nafsu makan yang menurun
d.      Inspeksi: Pergerakan pernafasan menurun, tampak sesak nafas dan kelelahan
e.       Palpasi: Adanya fremitus raba yang meningkat di daerah yang terinfeksi panas badan yang meningkat diatas normal, takikardi, naiknya tekanan vena jugularis (JVP), sesak nafas, adanya jari tabuh,
f.       Perkusi: Terdengar keredupan pada daerah yang terinfeksi
g.      Auskultasi: Pada daerah sakit terdengar suara nafas bronkhial disertai suara tambahan kasar sampai halus.
h.      Pemeriksaan tambahan terutama laboratorium yang terjadi peningkatan angka leukosit dan laju endap darah serta terjadinya penurunan tekanan O2 arteri, rontgen dada terlihat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya yang tampak jelas lagi dengan pemeriksaan CT-Scan dada. Adanya masa tumor atau benda asing dalam pemeriksaan bronkoskopi.

PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
I.            Hiperthermi berhubungan dengan efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipothalamus
o        Dapat ditandai dengan:
§   Peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dari jangkauan normal
§   Kulit kemerahan
§   Hangat waktu disentuh
§   Peningkatan tingkat pernafasan.
§   Takikardi
o        Tujuan:
§   Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan
o        Kriteria hasil:
§   Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan
o        Rencana tindakan:
§   Pantau suhu pasien (derajat dan pola); perhatikan menggigil/diaforesis
§   Pantau suhu lingkungan
§   Berikan kompres hangat dan ajarkan serta anjurkan keluarga
§   Kolaborasi: Antipiretik, Antibiotik
II.            Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi, peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, batuk tak efektif, dan infeksi bronkopulmonal
o        Dapat ditandai dengan:
§   Pernyataan kesulitan bernafas
§   Perubahan atau kecepatan pernafasan, penggunaan otot aksesori
§   Bunyi nafas tak normal
§   Batuk.
o        Tujuan :
§   Mempertahakan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas.
o        Kriteria hasil :
§   Menujukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas (batuk yang efektif, dan mengeluarkan secret).
o        Rencana Tindakan :
§   Kaji /pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi dan ekspirasi
§   Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas bronkhial
§   Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, Tinggi kepala tempat tidur dan duduk pada sandaran tempat tidur
§   Bantu latihan nafas abdomen
§   Observasi karakteriktik batuk dan Bantu tindakan untuk efektifan upaya batuk
§   Tingkatan masukan cairan sampi 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung serta berikan hangat dan masukan cairan antara sebagai penganti makan
§   Berikan obat sesuai indikasi
§   Ajarkan dan anjurkan fisioterapi dada, postural drainase
§   Awasi AGD, Foto dada
§   Kolaborasi: Bronkodilator, Antibiotika, Drainase Bronkoskopi
III.            Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli.
o        Dapat ditandai dengan:
§   Dypsnea
§   Bingung/gelisah
§   Ketidak mampuan mengeluarkan sekret
§   Nilai AGD tidak normal
§   Perubahan tanda vital
§   Penurunan toleransi terhadap aktifitas
o        Tujuan :
§   Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.
o        Kriteria :
§   GDA dalam batas normal, warna kulit membaik, frekuensi nafas 12- 20x/mt, bunyi nafas bersih, tidak ada batuk, frekuensi nadi 60-100x/mt, tidak dispneu.
o        Rencana Tindakan :
§   Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan serta catat penggunaan otot aksesori, ketidakmampuan berbincang
§   Tingikan kepala tempat tidur dan bantu untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas, dorong nafas dalam perlahan sesuai kebutuhan dan toleransi .
§   Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa
§   Dorong untuk pengeluaran sputum/ penghisapan bila ada indikasi
§   Awasi tingkat kesadaran / status mental
§   Awasi tanda vital dan status jantung
§   Berikan oksigen tambahan dan pertahankan ventilasi mekanik dan Bantu intubasi
IV.            Nyeri berhubungan dengan Inflamasi parenkhim paru, Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin, Batuk menetap
o        Dapat ditandai dengan:
§   Nyeri dada pleuritik
§   Melindungi area yang sakit
§   Perilaku distraksi, gelisah
o        Tujuan:
§   Menyatakan nyeri hilang/terkontrol
o        Kriteria hasil:
§   Menunjukkan perilaku rilek
§   Bisa istirahat/tidur
§   Peningkatan aktifitas dengan tepat
o        Rencana tindakan:
§   Tentukan karakteristik nyeri: PQRST
§   Pantau tanda vital
§   Berikan tindakan nyaman: pijatan punggung, perubahan posisi, relaksasi dan distraksi
§   Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk
§   Kolaborasi: Analgetik
V.            Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, Kelemahan umum, Kelelahan yang berhubungan dengan batuk berlebihan dan dipsneu
o        Dapat ditandai dengan:
§   Laporan verbal kelemahan, kelelahan, keletihan
§   Dipsneu karena aktifitas
§   Takikardi sebagai respon terhadap aktifitas
§   Terjadinya pucat/cianosis setelah beraktifitas
o        Tujuan :
§   Klien menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
o        Kriteria hasil :
§   Menurunnya keluhan tentang napas pendek dan lemah dalam melaksanakan aktivitas
§   Tanda vital dalam batas normal setelah beraktifitas
§   Kebutuhan ADL terpenuhi
o        Rencana Tindakan:
§   Pantau nadi dan frekuensi nafas sebelum dan sesudah aktivitas
§   Berikan bantuan dalam melaksanakan aktivitas sesuai yang diperlukan dan dilakukan secara bertahap
§   Libatkan keluarga dala pemenuhan kebutuhan pasien serta peralatan yang mudah terjangkau
§   Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
VI.            Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, salah mengerti tentang informasi, keterbatasan kognitif
o        Dapat ditandai dengan:
§   Pertanyaan tentang informasi
§   Pernataan masalah/kesalahan konsep
§   Tidak akurat mengikuti instruksi
o        Tujuan:
§   Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan
o        Kriteria hasil:
§   Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab
§   Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan
o        Rencana tindakan:
§   Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu
§   Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan
§   Instruksikan atau kuatkan rasional untuk latihan nafas, batuk efektif, dan latihan kondisi umum
§   Diskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi tak diinginkan
§   Tekankan pentingnya perawatan oral atau kebersihan mulut
§   Kaji efek bahaya minuman keras dan nasehatkan menghentikan minum minuman keras pada pasien dan atau orang terdekat
§   Berikan informasi tentang pembatasan aktifitas dan aktifitas pilihan dengan periode istirahat untuk mencegah kelemahan
§   Diskusikan pentingnya mengikuti perwatan medik, foto dada periodik, dan kultur sputum
§   Rujuk untuk evaluasi perawatan di rumah bila di indikasikan. Berikan rencana perawatan detail dan pengkajian dasar fisik untuk perawatan dirumah sesuai kebutuhan pulang.

0 komentar:

Poskan Komentar